10.11.13

Jodoh


JODOH
Karya : Wilujeng Puspita D







“Walaupun kita tidak jadi nikah, kita tetap jodoh. Jodoh rakyat pemimpin.”
Babak I
 Panggung menggambarkan seting  taman. Terdapat sebuah bangku panjang disana. Background panggung dipenuhi oleh lebarnya siluet.  
Adegan 1 (Adegan full gesture dibalik suluet)
 Dibalik siluet, hanya bayangan yang terlihat. Dibalik siluet yang merupakan gambaran kehidupan manusia. Dan dibalik siluet, dimana terlihat bayang Buriswara yang tengah dibuat kasmaran oleh  kekasihnya, Rara Ireng.
Burisrawa                       : Dedalane wong akrami
Dudu bondo dudu rupo
Amung ati pawitane
angel pisan luput pisan
Yen gampang luwih gampang
Yen angel, angel kelangkung
Tan keno tinumbas arto (macapat asmarandana)

Kecantikan Rara bak bunga jasmine. Harum aromanya menghipnotis , memabukkan dan merangsang kerja hormon dopamin pembangkit gairah seks setiap lelaki keparat yang melihatnya.
Burisrawa dan Rara tampak tengah beradu kasih. Meraba. Mendesah.Menyentuh. Dan tersentuhlah kemben Rara.

Rara                               : Jangan! Jangan kau sentuh kemben ku Burisrawa !
Burisrawa                       : (masih bernafsu)
Rara                               : Bukan untukmu ranum payudaraku ! (menampar) Bukan untuk kau tumbuk juga lumpang kewanitaanku !
Burisrawa                       :Kenapa Rara! Untukmu segalanya aku berikan !

Dibalik siluet itu, tengah beradu desah nafsu Burisrawa dengan jerit penolakan Rara Ireng. Tengah beradu pula pikiran dan hati Burisrawa atas penolakan Rara Ireng. Tangan Rara menampar wajah Burisrawa. Tamparan itu bukanlah apa apa jika dibanding pukulan gada Bima. Tak seberapa dengan tancapan panah Permadi. Tapi bak sebatang lidi yang menembus perut dan tepat menusuk hati Burisrawa. Dilepaskanya cengkraman pada paha Rara bersama harapan dan cintanya. Rara pergi meninggalkan Burisrawa dengan pilur pilur luka.

Burisrawa                       : Rara Ireng kembang Widarakandang
Kepadamu aku mabuk kepayang
Setiap malam kau menghiasi mimpi
Seanggun Wulan berselendang pelangi

Jangan kau tolak cintaku denok Rara!
Meski wajahku seburuk raksasa
Namun kesetiaanku melampau permadi
dan setara Bunda Setyawati

Rara Ireng, namun apa mau dikata?
Apabila hanya kemewahan yang kau dambakan
Hingga perawanmu seharga kerennya rupa
Bukan  jiwaku yang lantas remuk berkepingan (Suluk Burisrawa, Sri Wintala)
                                     
                                      Tapi aku percaya bahwa kau adalah jodohku
Jodohku… jodohku… jodohku
(gema)

Lampu mati

Adegan 2

Sepasang kekasih tengah duduk berdua. Menikmati lembayung yang tak kunjung menyingsing.
Ronu                              : Kekasihku…. Betapa ingin aku duduk berdua denganmu pada sebuah tepi muara sungai. Disana akan kita lihat derasnya dua sungai yang beradu satu menyapu semua ragu. Termasuk ragumu padaku, juga… raguku padamu.
Gendis                           : Ah, bagiku wis cukup duduk berdua denganmu diatas bangku ini. Lihat kangmas, dari sini kita bisa melihat lembayung yang tak kunjung menyingsing. Sebentar lagi segerombolan burung gagak pembawa pesan kematian akan terbang ke barat mengantar terbenamnya matahari. Kuharap saat melintas diatas kita, tak ada kabar kematian apapun yang akan ia sampaikan pada kita.yo termasuk kabar kematian hati sang kekasih untuk kekasihnya. Semoga saja.
Mereka saling menatap . Kedua mata yang saling membuka, namun siapa sangka hatinya menutup. Menutupi keragu raguan cinta mereka.
Gendis                           :  Duduklah.  Duduklah pada bangku ini. Pada sebuah bangku yang selalu mengingatkanku pada saat saat bersamamu.
Kau ingat tidak? Kala itu… pada sebuah bangku belakang kita duduk bersebelahan. Kadang aku bosan melihat pemandangan diluar jendela bis yang selalu memaparkan hijaunya padi. Sesekali aku melirikmu.

à Flashback ke adegan awal bertemu . Gesturisasi tunggal.

Pada sebuah bis kota yang melaju dari kota ke kota , tengah mengalunkan lagu ,mengantarkan tidur para penumpangnya.
Sorot jingga lampu jalan sesekali menerangi wajah seorang gadis (gendis, 16 th) di pojok bangku belakang. Ia tak tertidur. Tak bisa tidur. Dan  tak mau tidur. Ia tengah menikmati gairah malamnya. Menikmati sentuhan sentuhan lembut lengan seorang pria(Ronu 17 th) yang tertidur disebelahnya. Berharap banyak tikungan menuju Jogja. Berharap bis melaju dengan kecepatan maksimal 20 km/jam. Berharap banyak penumpang yang naik turun.
Bis berhenti dan menaikkan penumpang wanita separuh Baya. Wanita itu membangunkan dan meminta Ronu untuk berbagi tempat duduk.
Bibi                  :  Le, bangun.Geser .
Ronu pun berbagi tempat duduk dengan bibi itu. Lengan Ronu sedikit menindih lengan Gendis. Mereka duduk berdekatan. Sangat dekat. Semakin membuat Gendis harus menikmati gairah malamnya .
Ronu              : Kau tidak tidur dari tadi ?
Gendis            : (menggeleng) Kau tidak tidur lagi?
Ronu              :  (menggeleng) .Oh ya perkenalkan. Ronu
J
Gendis            : Gendis
J
Bibi                 : (menguap ngantuk dan melantur) Kalian itu memang jodoh .
jodoh jodoh jodoh (gema)
Ronu dan Gendis terheran heran dengan perkataan Bibi. Dibalik keheranan mereka, mereka ingin mempercayainya. “Bukankan lanturan orang yang setengah sadar itu adalah sebuah kejujuran?” begitu yang ada dalam benak mereka
Lampu Mati

Adegan 3

Waktu kembali lagi ke kronologi semula
Gendis                           : Itulah pertemuan pertama kita. Kau mengingatnya mas ?
Ronu                              : Yo jelas to.Bagaimana mungkin aku lupa gendis.
Oh iya,pada sebuah bangku depan ruko. Apa kau ingat yang ini?
Gendis                           : (mengernyitkan dahi)
Ronu                              : sekitar pukul 11 malam , kalau ndak salah itu adalah  kencan kita yang ke tiga kalinya. Setelah  kita bosan menikmati musik musik melankolis di sebuah café, kita berjalan menyelusuri lorong lorong gelap  menuju alun alun kota. Sepanjang jalan ku lihat kau tampak begitu gembira. Ah gendis… gendis…Candu canda mu mengundang gerimis yang akhirnya hujan.

Kemudian kulepaskan sorjan ku untuk menutupi jenjang bahumu agar air tidak masuk dan membasahi dadamu. Kita berjalan menuju sebuah bangku  depan Ruko dan kita duduk berdua. (diperagakan dibalik siluet)
Gendis                           : Lalu, apa kita duduk sedekat ini?
Ronu                              : Tidak. Lebih dekat lagi.
Gedis                             : Sedekat ini?
Ronu                              : (mengangguk)
Gendis                           : Lalu?
Ronu                              : Lalu kita…… (bertatapan cukup lama, tersenyum )
Ronu                              : Gendis… Dan pada sebuah bangku berkasur, bukan lagi anggur cinta  yang akan kutuangkan kedalam cawan hatimu.
Gendis kasihku (menuju ke balik siluet)
Mari sini sayangku…
Gendis menuju ke balik siluet (Adegan full gesture)
Ronu melepaskan ikat rambut Gendis. Dibelainya rambut Gendis seperti angin membelainya . Diciumnya wangi tubuh Gendis yang memabukkan. Bibir Gendis yang merah rekah bak mawar yang menarik perhatian para serangga untuk segera melumatnya. Birahi Ronu semakin membrutal menggelegak. Dipegangnya pinggang Gendis dan akan mulai meraba setiap jengkal pangkal dangkal tubuhnya. Tiba tiba …
Gendis                           : Tidak Ronu ! Hentikan ! Aku ndak bisa!
Gendis mendorong tubuh Ronu dan menuju ke panggung. Ia terduduk tertunduk.
Ronu                              : Gendis!
Gendis                           : Aku ndak bisa …
Ronu                              : (Menghela nafas)Ya sudah .Ndak apa apa. Toh sekarang masih hari minggu. Masih ada senin, selasa, rabu , kamis. Masih banyak hari, minggu juga bulan gendis. Selama itu aku masih menunggumu .
Gendis                           :  Kamis, lalu jumat , Sabtu dan kembali lagi minggu. Dengan jawaban yang sama. Dan akan tetap sama ! Aku ndak bisa ronu!
Ronu                              : Maksudmu tetap sama?
Gendis                           : Apakah malam ini sungguh dingin hingga otakmu terlalu beku?!
Ronu                              : Oooo yo, aku mulai paham.Tentang pesan kematian yang dibawakan oleh gagak.Apakah itu tentang kematian cintamu?
Gendis                           : Apa harus aku kobarkan api kecemburuan agar otakmu ndak lagi beku, hingga aku ndak perlu menjawabnya?
Ronu                              : Apakah benar hatimu telah mati?
Gendis                           : Apakah kamu belum paham juga?
Ronu                              : Jawab dulu pertanyaanku!
Gendis                           : Aku sudah berulang kali menjawabnya! Tapi berulang kali kau tanyakan itu lagi!
Ronu                              : Apakah kau tau? Gendis, apakah kau tahu! ada  hal yang benar benar ndak pengin aku ngerti malam ini!
Gendis menundukkan kepalanya.
Gendis                           : Ini masalah orang tuaku mas.
Ronu                              : Aku ndak pengin membicarakanya!
Gendis                           : Berhentilah bersikap kekanak kanakan! Sampai kapan kita akan terus berpura pura tidak terjadi apa apa?! (jeda)
 Ronu …Orang tuaku…
Ronu                              : Sama sepertimu ! Hanya pangkat dan harta yang kalian cari.
Gendis                           : Aku ndak kaya gitu Ronu
Ronu                              : (mendekati Gendis) Nek ngono…. Lakukanlah Gendis! Lakukanlah! Dengan ini, kita bisa menikah. Bukankah kau cinta padaku ? Kau pernah bilang bahwa hanya aku seorang yang kau cinta. Hahahaha. Aku masih ingat waktu itu kau bisikan dengan mesranya ditelingaku , hingga membuat buluk kuduk ku merinding. Kemudian kau terus bisikan berulang kali. Aku mencintaimu Ronu, Aku mencintaimu Ronu, Aku mencintai.
 Gendis                          : Arjun.Aku mencintai Arjun . Aku mencintai Arjun . Aku mencintai Arjun .
Mata Ronu terbelalak. Serasa ada yang berhenti berdetak dibalik dadanya. Cinta yang bertahun tahun ia bangun seketika retak
Ronu                              : O…..Kau bisikkan lirih ditelingakku bahwa kamu mencintaiku. Dan sekarang kamu teriakkan dengan lantangnya bahwa kau mencintai arjun?
Gendis                           : Ronu
Ronu                              : Pergilah
Gendis                           : Aku ha
Ronu                              : pergi ! Jangan paksa aku untuk membentakmu gendis!
Gendis                           : (menatap tajam dan merasa bersalah)
Ronu                              : Pergilah bersama cintamu dan tinggalkan diriku ! Pergi! Kubilang pergi ! Pergi gendis ! Pergi!
Gendis meninggalkan Ronu
Ronu                              : Pergilah dan tinggalkan diriku bersama pilur pilur luka!Pergilah dan tinggalkan diriku bersama pilur pilur luka! Aaaaaaagh ……Bibi………..!!!  Kau bilang kami ini Jodoh !!!
 Jodoh… Jodoh… Jodoh… (gema)
Tapi nyatanya dia pergi meninggalkanku!

Adegan 4
Fade in Bibi .
Sosok itu lagi lagi muncul dengan tetiba. Hanya lewat.
Bibi                                : Kalian ini masih tetap jodoh. Hoaaaaam
Ronu                              : Bibi? Kau ?
 Agh!!!!!!! Gendis !!!
Lampu mati



Babak 2
Seting panggung masih menggambarkan sebuah taman .  Musim kering. Lelaki itu sudah tidak berumur 17 tahun seperti saat pertama kali bertemu kasihnya. Bukan juga 22 tahun saat ia harus kehilangan kekasihnya. Tapi ,28 . Dan ia masih berharap.
Lelaki itu duduk berlutut . Lampu panggung menyorot tepat pada retinanya. Sepertinya ia tengah memutar ingatan tentang sesuatu yang pernah direkam oleh lensa objective matanya.

Gesturisasi tunggal perubahan waktu
Ronu                              : Ah, sudah  cukup lama juga ya aku terpuruk. Hahaha astaga…
Ronu berjalan menuju bangku. Kesepian. Sendirian. Ah tidak. Ada rokok dan korek disakunya. Sembari menikmati rokok, lahan perlahan lahan ia mulai berimajinasi. Seolah olah tengah mengobrol dengan seseorang.
Ronu                              : Hai … bagaimanakah kabarmu? | yah begini begini saja lah bung | Merokok? | (mengambil rokok) Thanks bro. Mereka masih menjulukiku sebagai kentang | Kentang ? | Iyo KenTang. Kena Tanggung. Gantengnya tanggung, rejekinya tanggung, otaknya tanggung, pokoknya semuanya serba tanggung lah! | Tunggu dulu , tapi kelaminmu ndak nanggung alias tidak setengah setengah kan? | Hahaha yaa cuma kelamin saja yang tidak  nanggung | Hahaaa, ya memang hal yang nanggung itu serba tidak enak. Aku akan bercerita tentang gambaran kisah cintaku. Aku pernah bersetubuh dengan seorang wanita. (mulai berimajinasi) Setiap jengkal tubuhnya begitu mempesona. Semerbak parfumnya bak bunga jasmine yang merangsang kerja hormone dopamine pembangkit gairah seks setiap lelaki keparat yang melihatnya. Kedua alisnya yang menggandeng membentuk titik erotis mengundang. Sekali mengedipkan mata, beuh! Pria mana yang tak ingin menurunkan resletingnya. Bibirnya yang merah rekah, seperti mawar yang menarik perhatian serangga untuk segera melumatnya. Payudaranya nampak ranum , seranum buah mangga. Semut mana yang tidak ingin menjilatnya? Keparat mana yang tak menginginkannya?  Dan dangkal pangkal pahanya. Ah…  dengan cepat segera kutumbuk lumpang kewanitaanya. Tapi sebelum aku orgasme, dia memintaku untuk berhenti menumbuknya! Tanggung memang !Sesuatu yang tanggung itu memang memuakkan. | Tunggu dulu bung, sebentar ! Sebelum kau bercerita lebih lanjut mengenai kisah cintamu, alangkah lebih baiknya kita berkenalan terlebih dahulu. Iskandar. | (Terheran dan bengong)
Ronu                              : (Ke Penonton) Oooo rupanya kita belum kenal sama sekali. Astagaa ! Hahaha. Tapi ya itulah lelaki. Hanya sekedar prolog bosa basi , berbagi rokok kemudian kita bisa menarik perhatiannya. Sebenernya konsepsi menarik perhatian wanita juga sedikit sama. Sekedar prolog bosa basi, berbagi tapi bukan rokok ya. Kalaupun rokok, itu lain persepsi.
Tapi justru yang menjadi masalah adalah dikalimat berbaginya. Ya kalau mau berbagi susah. La kalau maunya berbagi uang, mobil, rumah? Repot juga kan. Hah! Wanita… wanita…
Ronu kembali duduk dan menikmati rokoknya. Hanya rokok. Sepi. Sendirian. Ah tidak. Rupanya ada sebotol anggur di tasnya.
Ronu                              : Apakah kalian pernah mabuk? Aku juga belum pernah, kalian mau? Tunggu sebentar.
Diambilnya gelas aqua yang tergeletak dihadapanya. Ia menuangkan. Menawarkan . Meneguk.
Ronu                              : Aaaah. Mabuk yang pertama adalah mabuk yang paling memabukkan.  Cinta pertama adalah cinta yang paling memabukkan. Apakah kalian pernah mabuk? Aku juga belum pernah. kalau begitu mabuklah denganku
Ronu kembali meneguk anggurnya
Ronu                              : Aaah. Mabuk yang kedua adalah mabuk yang lebih memabukkan. Cinta kedua, jauh lebih memabukkan. Apa kalian pernah mabuk yang ketiga kalinya? Aku juga belum pernah. Kalau begitu, mabuklah bersamaku.
Lagi dan lagi, Ronu kembali meneguk anggurnya
Ronu                              : Aaah. Bangsat! Ternyata mabuk ke tiga jauh lebih memabukkan! |  Ronu, apa kau mau mabuk lagi? | Gendis? Iya, aku mau. Aku mau lagi gendis | Minumlah terus Ronu, jangan berhenti mabuk.
Imajinasi berlebihan. Atau hanya sekedar menarik empati publik? Lahan perlahan lahan , empati dan simpati mulai berdatangan.
Satu per satu fade in : Kasid , cipluk , mentik , igu
Ronu                              :Kemudian berulang ulang ulang ulang kali ia menuangkan anggur kedalam gelasku. Dari tuangan pertama , kedua, ketiga hingga entah yang keberapa. Hingga entah mabuk yang keberapa. Yang jelas aku benar benaar dibuat mabuk olehnya!

Candu. Gendis benar benar membuatku menjadi seorang pecandu ! Sebagai pecandu, ndak mungkin dalam sekedipan mata, aku bisa menghindari minuman anggur itu. Butuh waktu yang lama dan perlahan lahan. Dan itu sudah barang tentu sangat menyiksa !
Tapi dengan kejamnya, Gendis berhenti menuangkan minuman anggurnya ke gelasku. Gendis berhenti menuangkan cintanya kedalam cawan hatiku ! Candu, akulah pecandu cinta Gendis yang harus berhenti mabuk dalam seketika! Biadab !

Dan yang lebih kejamnya lagi, dia menuangkan anggur cintanya ke dalam cawan hati Arjun yang terbuat dari emas! Tidak seperti cawanku, yang hanya sebuah gelas aqua! Saat aku tanya alasan dia lebih memilih arjun, dia berkata. Karena kau adalah seorang pemabuk dan penjudi. Aaaaah Bulshit kau gendis. Bilang saja karena Arjun berpangkat! Dasar wanita bermata hijau, berotak uang , bermulut dusta , memang bangsat ! Pengejar pangkat keparat! Keparat ! Keparat ! Bangsat ! Bejat ! Aaaaaaaagh!
Ronu kembali menghisap rokoknya. Menenangkan diri. Meraba bangku.
Ronu                              : Pada sebuah bangku , Gendis duduk disana sebagai wakil rakyat.  Semakin ironis saja negeri kita ini… La bagaimana tidak? Mereka yang duduk dibangku sana, semata mata hanya karena faktor finansial . Mana ada dijaman sekarang pemimpin yang ingin memimpin! Halah apalagi membawa perubahan! Perubahan menuju korupsi yang lebih aman? Tidak pemimpin tua, pemimpin muda apalagi. Semuanya sama saja! Ya… begitu lah yang namanya buah karbitan. Masak mendadak, busuk pun tidak menunggu besok. La… piye, wong modal ijasah tidak pakai alamat , boro boro punya pangkat. Ujung ujungnya semen dan batu juga dijilat.

Ujare para winasih , yen saiki jaman edan. Sing ra ngedan ora keduman. Begja begjaning manungsa sing eling lan waspada.(nyanyi)

Gila ! Orang yang benar benar gila, bukanlah orang yang biasa kita sebut gila! Melainkan orang yang menggila pada dunia. Dengan menggila mereka bisa mendapatkan semua didunia ini. Termasuk imaji.
Roda pemerintahan hanya menelindas nasib nasib rakyat. Isu isu keserakahan pemimpin negeri ini sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Sudah bukan menjadi momok. Dan sudah tidak ada kepedulian lagi bagi rakyat rakyat seperti kami untuk menanggapinya.Begitu banyak nama koruptor di negeri ini. Lebih banyak daripada nama pahlawan yang gugur dalam medan perang. Aku tidak terlalu mengurusi siapa mereka. Toh aku tidak kenal dengan para koruptor itu.Tapi yang ini berbeda. Isu kali ini berbeda. Aku mengenalnya. Dekat. 
Kasid , cipluk , mentik , igu semakin tertarik dengan pembicaraan Ronu.
Ronu                              : Ini ada hubunganya dengan ketidak jelasan lahan bengkok didesa ini. Banyak buruh petani di desa kita yang menganggur karena ketidak jelasan perkara ini. Jika buruh petani desa ini menganggur, bagaimana bisa mereka menyekolahkan anak anak mereka. Jika sampai anak anak putus sekolah, berapa ratus juta penduduk miskin akan terdata kelak? Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Angka kemiskinan boleh bertambah asal jangan berkali lipat! Apalagi karena keserakahan para pemimpin negeri. Cih.
Dengar dengar ada seorang investor yang seenak jidatnya saja menginvestasikan lahan bengkok desa kita. O…rupanya mulai ada keserakahan disini. Mulai tercium bau bau busuk buah karbitan disini. (mencari datangnya bau)
Kasid , cipluk , mentik , igu pun mengikutinya. Ronu dan mereka mengendus seperti anjing,lalu  berkumpul, seperti telah mendapatkan sumber kebusukan. Ketika mereka berbalik arah ke penonton, mereka telah mengenakan topeng . Siasatpun sepertinya siap melesat.
Ronu                              : Sepertinya arah sumber kebusukuan telah ditemukan.
Lampu mati


Babak 3
Diruang tengah. Hangat . Ah tidak , dingin. Dua orang tengah duduk diruang tengah yang hangat , dengan hati yang dingin.
Adegan 1
Gendis                           : Menyogok saja
Arjun                              : Itu bukan jalan keluar
Gendis                           : Membiarkan aku terus menerus terlilit masalah ini , apakah itu juga jalan keluar?
Sudahlah. Menyogok saja
Arjun                              : Itu bukan jalan keluar
Gendis                           : Menyogok bukan berarti kita lepas masalah. Hanya saja agar masalah ini tidak terlalu berkepanjangan !
Arjun                              : Itu bukan jalan keluar
Gendis                           : Untuk bisa melewati persidangan ini, kita harus bisa menghadapi pertanyaan pertanyaan hakim itu. Hakim akan bersikap adil.
Arjun                              : Jika hakim itu adil, apa masih kau ingin menyogok nya?
Gendis                           :Lo, Justru hakim akan lebih bertindak adil jika kita menyogoknya. Konsepsi keadilan dan kebaikan. Bahwa jika seseorang memberikan kebaikan, ia berhak mendapatkan kebaikan yang sama. Jika kita memberikan uang jajan kepada hakim itu, kita berhak mendapatkan sedikit bantuanya. Itu hal yang adil. Dan itu lah yang disebut keadilan.
Arjun                              : Ini bukan persoalan itu !
Gendis                           : Halah ! Itu bukan jalan keluar ! Ini bukan persoalan itu ! Itu bukan ini ! Ini persoalan yang tak sederhana !Agh ! Muak aku.
Arjun                              : Ketimbang aku harus membayar sogokan kepada hakim itu, lebih baik aku mengganti saja lahan desa yang kau investasikan ke penipu !
(jeda)
Berkali kali kali aku katakan, ini bukan persoalan bagaimana perkara itu harus diselesaikan. Tapi ini persoalan bagaimana agar  istriku berhenti berinvestasi dan berbisnis yang tidak jelas !
Heran. Benar benar heran dengan jalan pikiranmu ! Aku hanya ingin kamu menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suami. Hanya itu !
Memasak , memandikan anak, menyiapkan seragam setiap pagi. Aku masih sanggup dan sangat sangat sanggup menafkahi kamu.Tidak perlu kamu menjadi DPR. Tidak perlu juga kamu mencari uang dengan investasi ataupun bisnis bisnis mu yang tak jelas itu !
Gendis                           : Bisnis itu jelas!
Arjun                              : Jelas kau tertipu!
Ah sudahlah , Aku ada urusan dikantor.
Gendis                           : Lo,Ini hari minggu pah.
Arjun                              : Urusan pribadi. Sangat pribadi. Sangat penting.
Gendis                           : Dengan baju santai seperti itu?
Arjun                              : Sudah aku bilang , ini urusan pribadi. Tidak masalah memakai baju seperti ini
Gendis                           : Tapi itu kan urusan penting! Jadi urusanmu itu urusan pribadi ? atau urusan penting? Atau sekedar mengada ada?
Lalu apa masalah kita ini bukan masalah pribadi dan penting?
Arjun                              : Aku pergi.
Fade out Arjun
Gendis duduk terpaku.

Adegan 2

Fade in Gesturisasi tunggal suara hati gendis
Gendis                           : Tidak pernah lagi dia peduli dengan permasalahanku. Tidak pernah pula dia peduli berapa hektar tanah yang ku lahap.Jika aku bersedia untuk fokus mengurusi dia dan anak kami, belum tentu juga dia akan perhatian padaku.  Nampaknya sudah tak ada lagi tanda cinta .

Adegan 3

Fade in demonstran bertopeng (gesturisasi puisi)
Suara yang ditakuti oleh para pejabat bukanlah suara ketukan palu yang bisa mereka beli, bukan juga suara dering Telphone kantor kejaksaan . Tapi suara ini…

(kontemporer puisi)
Demostran                    :Turunlah Kau … Turunlah kau… Turunlah kau… Turunlah kau… Turunlah Kau … Turunlah kau…
Kasid                              :Dibawah pohon beringin , kami tertidur terkapar kapar lapar kelaparan
Cipluk                             :Dalam ikatan rantai kemakmuran kami terikat terjerat terlilit  kesengsaraan
Mentik                            :Dalam poster padi kapas, kami hanya menjadi figur keibaan semata , nasib kami hanya menjadi momok yang kemudian tergulung dengan rapihnya.
Igu                                 :Dalam kepakan sayap garuda , kami diterbang ombang ambingkan dalam kebijakan pemerintah
Cipluk                             : Dalam cengkraman Garuda , bukan lagi pita bhineka tunggal ika. Tapi leher kami yang menjadi cengkramannya. Menyekik!
Mentik                            : Dalam tanduk banteng lambang persatuan kami mencarinya. Namun kami terseruduk tanduk terduduk tunduk.
Ronu                              :Kami dengan kulit hitam kelam penuh suram 
Igu                                 : Bercaping dan hanya bersembunyi dibaliknya
Kasid                              :Bibir kering tersungging tawa getir
Cipluk                             : Mata kami terbelalak tapi hak hak manusia tak dapat kami lihat
Mentik                            :Kami yang konon patriot negeri tapi selalu tak mengerti tentang keadaan negri
Igu                                 :Dan kami yang hanya mampu melihat beribu ribu ribu demonstran berteriak dan beraksi didepan publik . Membela kami tanpa mau mengerti kami.
Adegan  slow motion
Demonstran                  :Ya, kami . Tersisih dalam derap laju ambisi
Terlupakan dalam kebijakan birokrasi
Terkubur dalam negosiasi politisi
Terjerat dalam hak yang konon berazaskan kemanusiaan!

Hei kau pemimpin kami
Kau berjanji kau berjanji kau berjanji kau berjanji kau berjanji (mengelilingi gendis dan suara hatinya)
Suara hati                      : Aghhhh
Gerak kembali normal
Fade out suara hati

Adegan 4

Gendis                           : Perkara apa ini? Ha?
Demonstran                  : (bingung) sebenarnya ada apa? Ada apa sebenarnya?
Ronu                              : (membuka topeng, gendis kaget)Jangan menjadi kura kura Ibu gendis. Sudah menjadi momok  tentang keserakahanmu, hingga kami tidak dapat lagi mencari cacing penyambung nafas di lahan desa kami sendiri.
Demonstran                  : Nah … itu perkaranya!
Gendis                           : Oh perkara itu. Kembali lagi nanti siang. Suamiku akan menggantinya.
Ronu                              : Tidak bisa.
Demonstran                  : Iya tidak bisa!
Gendis                           : Tidak bisa?
Demonstran                  : Tidak bisa kenapa? Kenapa tidak bisa?
Ronu                              :Masalah belum selesai. Selalu. Selalu saja kau meremehkan dan meninggalkan masalah begitu saja. Apa itu etika pejabat menyelesaikan sengketa?Meninggalkan semua janji yang terucap. Daan..
 Meninggalkan kekasihmu pada sebuah taman di sore hari(lirih)
Gendis                           : Jangan membawa urusan pribadi di depan mereka. Lagipula kau yang meminta aku pergi saat itu!
Ronu                              : Karena hatimu telah pergi. Hatimu telah tertutupi nafsu keserakahan. Hanya uang yang ada di otakmu. Kau pergi, mengejar pangkat setinggi tingginya. Duduk di dewan kehormatan. Lalu lihat sekarang dirimu, menjilati semen , aspal , bangunan dan lahan rakyatpun kau lakukan. Biang kerok kesengsaraan negeri.
Gendis                           : La terus aku harus menjilati kartu judi dan meneguk alcohol sepertimu? Menghabiskan harta keluarga? Menjadikan mereka jatuh miskin? Lalu setelah miskin, aku harus menyalahkan pemerintah ? berkoar dibelakang? Bergantung pada pemerintah dan menyalahkanya? Mengkambinghitamkan sistem pemerintah sebagai penyebab kemiskinan Negara? Atau itu semata mata karena kecemburuan tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjilati aspal dan batu?
Ronu                              : Cemburu? Aku lebih bangga menjadi penjudi dan pemabuk. Menghabiskan harta keluargaku. Yang penting ndak memakan uang orang banyak .  Tidak mengombang ambingkan nasib orang banyak. Bahkan mereka yang dulunya tetangga tetanggamu-pun , harus menjadi korban keserakahanmu? 
Gendis                           : Yow is lah !Lagipula..Korupsi itu kewajaran! Hakikat manusia. (canggung)
Ronu                              : Kewajaran yang bagaimana gendis?Kau benar benar ndak pantas menjadi pejabat negeri  ini . Hati nuranimu sudah tidak ada lagi.Wis mati!  
Gendis                           : Mbok pikir kamu menganggap dirimu bersama kawanan petani ,nelayan, dan pemulung pemulung itu ,pantas menjadi pejabat? Modal apa? Nurani?
Ronu                              : Justru sekarang petani , nelayan dan pemulung jauh lebih pintar! Mereka bisa membuat kamu kaya raya, tapi kamu, pejabat, ndak bisa membuat mereka sejahtera.
Demonstran                  : Nah itu dia! Tidak becus! Tidak sanggup. Tidak mampu.
Gendis                           : Kau boleh pergi sekarang Ronu.
Ronu                              : Kalau kelakon jadi mentri pendidikan , program terpenting adalah merubah kurikulum pendidikan. Mata pelajaran matematika dicoret, karena tidak bermanfaat.
Demonstran                  : Nah itu dia!
Gendis                           : Ronu , cukup.
Ronu                              : Hasil survey menunjukan bahwa 90% pejabat tidak bisa berhitung! Matematika akan diganti dengan mapel etika korupsi. Mata pelajaran ekonomi  akan diganti dengan mapel nurani bermasyarakat.Agar esok para pejabat negeri punya etika , nurani dan pandai berhitung. Tidak sepertimu.
 Demonstran                 : Nah itu dia!Tidak sepertimu gendis.Tidak sepertimu gendis. Tidak sepertimu gendis.
Gendis                           : Aaaaagh…. Bibi …..
Suara gong.
Adegan 5
Adegan freez
Dibalik siluet , bayang sosok tetiba itu lagi lagi muncul
Bibi                                : Mingkar-mingkuring angkara
akarana karenan mardi siwi
sinawung resmining kidung
sinuba sinukarta
mrih kretarta pakartining ilmu luhung
kang tumrap ing tanah Jawa
agama ageming aji (macapat : serat wedhatama)
Hidup di dunia ini tidak usah saling menyalahkan , saling merendahkan. La wong semua sama sama salah, semua sama sama rendah.
Rakyat negeri kita memang hanya bisa menyalahkan keadaan , berkoar dibelakang , mengkritik tanpa solusi. Karena mereka bodoh.
Tapi apa bedanya dengan pejabat negeri ini? Berhitung saja tidak bisa. Ijasah saja salah alamat. Nurani pun tidak punya. (nyanyi)
 Kalau di fikir fikir, rakyat dan pemimpin itu sama sama bodohnya. Juga sama sama sedikit pinternya.
Saat pejabat korupsi , rakyat berteriak teriak. Karena rakyat tidak mendapatkan kesempatan untuk korupsi.  Karena tidak ada yang bisa dikorupsi juga.Tapi ketika ada peluang, ya korup juga.
Orang bejat yang suka berjudi , mabok , apa bedanya dengan orang keparat yang berambisius mengejar pangkat? Sama sama memikirkan kenikmatan duniawi.
Ojo katungkul uripe… Lan ojo duwe kareman, marang pepaes donya.
 Walaupun kalian tidak jadi nikah, kalian tetap jodoh. Jodoh rakyat pemimpin. Sifatnya sama.
Gong berbunyi.Gerak kembali normal
Kasid                            : Oh…. Jadi kalian ini jodoh?
Cipluk                           :Jadi jodohkah kalian berdua? Oooh
Mentik                          :Jadi kalian berdua jodoh? Oooh
Igu                               :Kalian? Ooooooh jodoh ya?
Kasid                            :Jodoh? Jadi kalian? Oooo
Igu                               :Oh….. kalian ini , jadi jodoh?
Fade out Demonstran
Lampu mati

Adegan 6
Gesture oleh Gendis dan Ronu. Diikuti oleh Burisrawa dan Rara Ireng dari balik siluet.
Gendis Ronu                  : Bibi mengibaratkan kami adalah cermin. Memiliki sifat bayangan yang sama. Ketika aku sedang bercermin, aku melihat sosoknya dalam diriku. Dan kini , aku percaya. Bahwa kau adalah Jodohku !
Jodohku….. Jodohku….. Jodohku…. (gema)
Jodoh rakyat pemimpin.
Fade in Bibi
Bibi                                : Kalian memang Jodoh . Hoaaaam .
*******

No comments:

Post a Comment

silahkan masukkan komentar. pesan, saran maupun kritik untuk BEZPER tercinta