28.4.19

HARI PUISI NASIONAL

Ruang
Oleh Luthfia Fatimatuzzahro
Gelap...
Sendiri, aku menyelinap
Dingin rasa dengan pecahan kaca
Kurasa ini sampah-sampah rasa
Denganku...
Aku, disini, untuk itu
Menata kaca dengan jemariku kujadikan ratu
Setelah itu..
Ruang itu...
Kujadikan milikku
Ruang hatimu...


Waktu Itu
Oleh : Dewi Wiji
Waktu itu, aku tak menegrti
Mengapa? Apa? Bagaimana Bisa?
Entahlah, akupun tak menyukai
Juga tak membenci
Hingga akhirnya, aku memutuskan
Bahwa waktu itu, telah membuktikan
Bahwa ketidaktahua, membuatku buta, tuli
Hingga tak berani melangkah
Berhenti? Atau pergi?
Salah !
Ternyata, waktu itu adalah sebuah kesempatan
Mengenal, dikenal
Mengerti, dimengerti
Memahami, dipahami
Merasa, walau tak dirasa..
Semua itu membuktikan
Bahwa waktu itu adalah kebahagiaan yang tak tergantikan
Kebahagiaan yang takan mungkin kutemukan
Jika aku menyerah, pasrah, dan pergi begitu saja
Tidak !!....
Kalian harus tau !
Dengarkan ! Aku ingin dunia tahu
Aku berjuang untuk tidak menyerah
Namun,
Ah. Sudahlah ! aku merindukan waktu itu
Kebersamaan, yang mencipta keluarga baru
Terimakasih
Waktu itu


Penjilat dan Penghisap
Oleh : M Irfan
Luang dalam waktu
Membenci tapi menjunjung
Menolak tapi mendekat
Wahai penjilat bajingan
Akankah kau terus begitu
Menjilati bumi yang mencair
Bagai eskrim dalam corong
Kau gerogoti hingga dalam
Isi dan cairan kau hisap habis
Seolah tak puas akan dunia
Yang kini menua
Duhai alam, akankah kau menjawab
Panggilan yang membuatmu marah
Pada penghisap yang tak terpuji