5.12.13

Telfon dari Ibu

karya : Gilang Vaza Benatar




Aku hanya melirik sebal kepada telfon genggam yang berdering di sudut meja belajar. Seketika perhatianku kembali tertuju pada monitor laptop yang menampilkan serangkaian data-data statistik. Telfon genggam berhenti menyalak. Kuseruput kopi hitam perlahan. Aku suka sekali kopi hitam. Selain efek kafein membuat mata terjaga lebih lama, kopi hitam juga sangat pas untuk metaforakan kepahitan hidup. Telfon kembali berdering. Kulihat ada sepuluh panggilan tak terjawab. Oh, Bu, kali ini saja ya. Anakmu harus menyelesaikan tugas dan laporan praktikum yang menumpuk. Sejurus kumatikan telfon.

            Itu mulai membuatku jenuh. Mengolah serangkaian data pada sebuah software kemudian membahasnya dengan sistem bahasa yang kaku. Kopi dalam gelas sudah tinggal ampas. Aku memaksa kuat meski badan terasa lemas. Tak terasa hari sudah sangat larut. Kedua bola  mataku belum juga mengerucut. Kurebahkan tubuhku diatas dipan dengan tangan menegadah. Pandanganku menelusur  langit-langit kamar kos yang sempit, dan terhenti pada sebingkai foto yang membalut wajah ibu. Ah, Ibu. Sejurus aku larut dalam kenangan masa lalu.

            Saat itu aku berumur tujuh tahun. Perang berkecamuk di dusun Bondan dan Gunungsari akibat soal sepele, pemuda berebut joget diatas panggung orkes. Aku sedang lahap menyantap nasi jamblang dengan ibu di teras rumah di temani rembulan yang bundar. Seketika penduduk dusun berlarian sembari memukuli kentungan tanda bahaya. Ibu lantas menggendongku. Di ujung jalan kulihat api berkobar-kobar. Beberapa pemuda saling tonjok dan bacok. Ibu berlari tergesa. Ditutupnya kepalaku dengan kain. Aku menangis ketakutan.

Kuintip disela kain, gelap. Sesekali samar terlihat pohon-pohon jati berdiri tegap dalam remang. Setelah itu penduduk terhenti dari lari. Aku sangat ketakutan, hingga tak tahan, akhirnya buang hajat sembarang. Kulihat senyum ibu yang dibias cahaya rembulan. Ibu menyeboki aku dengan daun seadanya. Lalu teduh suaranya membelah malam, mecoba menghapus rasa takutku,

“jangan takut, ada ibu disini.”



            Aku selalu semangat untuk sekolah, tidak perduli sekalipun tanpa uang saku dan jarak yang jauh. Hari itu aku mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat di kecamatan. Aku hanya dibekali air putih oleh ibu. Aku memang tidak berhasil merebut gelar juara. Namun ada hal yang lebih berharga dari itu. Ibu datang jauh-jauh dari rumah membawakanku sepotong roti. Lantas kami duduk dibawah teduh pohon beringin. Kumakan roti dengan lahap. Kulirik ibu. Alisku beradu melihat ibu yang menelan ludah. Agaknya ibu tahu apa yang ada dalam pikiranku,

“ibu tadi sudah makan sebagian.” Itu adalah kebohongan tertulus yang pernah aku tahu.

Bayanganku beralih pada slide-slide peristiwa pilu lain. Pernah suatu ketika, muak memuncak dalam benak ibu terhadap kebiasaan mabuk bapak, dihadapan bapak ibu meminum arak. Atau ibu yang menceriterakan pengalamannya menjadi TKW. Banyak TKW Indonsia tidak diperlakukan secara manusiawi di kantor kedutaan. Atau tentang masa kecilnya yang harus berbagi sebutir nasi dengan penggembala kambing. Itu sangat membekas sekali.

            Saat aku SMP ibu selalu menghadap sekalipun diperlakukan tak pantas oleh staf tata usaha. “Kalau mau dapat kartu ujian, ibu harus lunasi tunggakannya. Kalau tak punya biaya, tidak usah sekolahkan anak.” Tapi ibu terlalu tak tega melihat anaknya yang nakal ini harus menggadaikan waktu mengerjakan soal ujian. Segala usaha dia kerahkan untuk itu. Aku kadang menyalahkan ibu dalam situasi ini. Kadang timbul pertanyaan dalam benak, mengapa aku dilahrikan olehmu untuk susah begini ? Tapi semua luruh. Setelah aku masuk ruang ujian dan melihat langkah beliau dari sela-sela jendela. Aku tidak tahan untuk tidak menangis.

            Sejak saat itu aku berjanji untuk tidak lagi mengecewakan beliau. Kusisihkan waktu luang untuk membersihkan masjid SMA supaya dibebaskan biaya SPP dan tidak lagi terkendala kartu saat ujian sehingga ibu kembali jadi korban. Sangat kunikmati ketika menyikat WC masjid yang kotor akibat kebiasaan siswa yang jorok itu. Ibu juga menyikat WC saat jadi TKW, pikirku. Aku juga belajar segiat mungkin. Hingga akhirnya aku berkesempatan untuk medapat beasiswa S1.

Ibu sangat tahu apa yang aku inginkan. Hingga aku harus merelakan ibu yang kembali mempekerjakan dirinya di rantau nun jauh untuk membiayai awal kuliahku. Namun lebih dari itu, yang membuatku bahagia adalah; atas kebaikan majikan ibu berkesempatan naik haji. Betapa tangisnya membuatku tergetar, ketika suatu waktu dalam sambungan telfon ibu mendeskripsikan Ka’bah.

Sejauh ini ibu telah membawaku. Kepahitan demi kepahitan hidup telah kami lalui dengan baik.  Aku semakin sadar atas peranku yang telah susah payah dilahirkan oleh ibu. Tidak terasa air mataku mengaliri pelipis yang peluh. Kuusap debu yang menyelimuti bingkai foto ibu. Kutatap wajahnya yang dulu kencang, kini mulai berkeriput. Ya Tuhan, seangkuh inikah aku ? Bahkan aku yang belum menjadi apa-apa ini harus mementingkan tugas-tugas dan laporan kuliah daripada telfon dari ibu.

Kunyalakan telfon genggamku. Aku segan untuk menelfon ibu. Beliau pasti sudah tidur. Tapi kemudian telfonku berdering dan tertera nama ibu di layar. Kuangkat telfon dari ibu.

“Ibu belum tidur ?” Air mataku mengembang. Kemudian kudengar suaranya yang lemah dan serak.

“Belum. Ibu kangen, nak. Kamu sudah makan ?” Hati mana yang tahan untuk tak menangis ?

“Kamu menangis ? Jangan menangis, ibu ada disini.” Sambung ibu.

“Ibu Cuma mau bilang satu hal sama kamu.”

“Iya, Bu. Apa ?” Jawabku parau.

“Selamat ulang tahun ya. Ibu sayang kamu.”

***

No comments:

Post a Comment

silahkan masukkan komentar. pesan, saran maupun kritik untuk BEZPER tercinta