16.12.13

Kotak Hitam

 Karya : Abdullah Syukur Anggota Muda Bezper 2013

 Di sore hari yang penuh ketenangan, dipedesaan penuh dengan persawahan, seorang anak dan ibunya memulai kehidupanya dengan berkeliling menjajakan sorabi.

 Ibu             : sorabi.. sorabi.. sorabinya bu.. pak.. 
Anak           : ibu sini biar saya yang membawanya. 
Ibu              : tidak usah nak, ibu bisa sendiri (sambil mengelap keringat dan menatap anaknya sambil   ersenyum)
 Anak          : ibu.. (mengelap keringat)
 Ibu             : iya ada apa nak ? kamu pasti capek ? sudah kamu tunggu sini saja. Biar ibu yang berkeliling. 
Anak        :benarkah ibu ? tapi aku tidak ingin membiarkan ibu berkeliling sendirian, sedangkan aku disini hanya duduk dan bersantai.
 Ibu            : tidak apa-apa, memang ini tugas ibu, sebagai ibu dan sekaligus sebagai ayahmu.
 Anak         : coba ayah..
Ibu             : sudah-sudah, kamu tunggu disini saja. Biar ibu berkeliling dulu. Tapi ingat jangan kemana-mana apapun yang terjadi kamu harus tetap disini.
Anak          : iya bu, tapi ibu hati-hati ya.
Ibu             : iya nak, ingat jangan kemana-mana apapun yang terjadi. Lalu ibunya pun pergi berkeliling untuk menjajakan dagangannya, sementara itu si anak menunggu ibunya sambil bersantai, tiba-tiba ada suara decitan ban lalu ada suara teriakan- teriakan histeris disekitarnya.
Anak          : wah ? ada apa disana ?
Anak          : apa yang terjadi disana ?
Anak          : (berlari menuju ke sumber suara)
Anak          : ah tidak, ibu sudah berpesan padaku, apapun yang terjadi jangan kemana-mana.

lalu sang anak pun kembali duduk dan berdiam diri, lalu ada seorang nenek datang menghampirinya.

 Nenek        : assalamualaikum nak (sambil duduk disebelah anak) Anak : walaikummusallam nek, ada apa ya nek ?
Nenek      : saya orang jauh nak, saya sedang kehausan. (mengelap keringat dan mengambil botol kosongnnya)
Anak             : memang nenek berasal dari daerah mana nek ?
Nenek           : saya dari Jakarta nak, tapi jauh dari perkotaan.
Anak           : orang-orang di sini berlomba-lomba agar bisa ke Jakarta, tapi ko nenek jauh-jauh dari Jakarta malah kemari . memang ada perlu apa nenek kemari ?
Nenek           : saya sedang mencari ketenangan nak, ketenangan yang tidak dapat ditemui dijakarta.
Anak           : ketenangan bagaimana maksud nenek ? apakah hidup bersama orang-orang miskin maksud nenek?
Nenek           : bukan, ketenangan hati yang jauh dari sifat kemanusiaan.
Anak             : maksud nenek ? (bingung)
Nenek           : sifat rakus manusia yang membuat semua menjadi tidak tenang.
Anak             : (berdiri sambil mencari ibunya)
Nenek         : sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan dengan kejujuran, semuanya hanya bisa menggunakan uang ! uang ! dan uang !
Anak             : memangnya nenek tidak membutuhkan uang ?
Nenek           : untuk apa uang ? (sinis) Anak : bagaimana nenek bisa makan jika tanpa uang ?
Nenek           : itulah gunanya uang, untuk membatasi kita dalam hal berbagi !
Anak             : (berfikir)
Nenek           : sekarang coba kamu datangi warung makan yang disitu, dan kamu minta isikan botol minum ini tanpa harus membayarnya.
Anak         : baik, coba sini biar aku coba. Sementara itu si anak mencoba pergi ke warung makan disebrang, dan kembali lagi ke tempat nenek tadi berada.
Nenek           : bagaimana ? dapat tidak ? (meleceh)
Anak             : dapat, ya perkataan kasar yang kudapat. Kalo tidak punya uang jangan kesini dasar miskin.
Nenek           : karena apa ? itu semua karena uang ! (sambil mengambil kembali botolnya)
Anak             : lalu apa bedanya disini dengan di Jakarta ?
Nenek           : ya tidak ada bedanya.
Anak             : lalu ketenangan tadi ?
Nenek           : ya sekarang aku telah menemukan ketenangan itu.
Anak             : maksud nenek ?
Nenek           : ya ketenangan itu ada pada dirimu, pada diri seorang pemuda yang polos sepertimu.
Anak             : (berdiri sambil melihat kanan-kiri mencari ibunya) Nenek : apa yang kamu fikirkan sekarang ?
 Anak            : aku memikirkan ibuku. (sambil terus mencari)
Nenek           : mengapa kau hanya memikirkan ibumu ?
Anak             : karena hanya ibukulah yang aku punya.
Nenek           : benar.
 Anak            : benar apanya nek ? (bingung)
Nenek           : ya memang benar inilah ketenangan, sebentar lagi kau akan menemukan ketenangan itu.
Anak             : aku sangat mengkhawatirkan ibuku, tadi aku diberitahu bahwa aku harus menunggunya disini apapun yang terjadi.
Nenek           : memang sedang apa ibumu nak ? menjajakan sorabi ?
 Anak            : iya benar, nenek ko bisa tau ?
Nenek           : ya tadi saat aku menuju kesini, aku lihat ada ibu-ibu sedang menjajakan sorabi. Mungkin ibumu tidak akan datang kemari nak.
Anak             : mengapa nek ? (bingung)
Nenek           : karena ibumu sudah pergi terlalu jauh.
Tiba-tiba sang nenek menulis sesuatu dikertas dan dimasukannya ke kotak hitam, lalu diberikannya kepada sang anak.
Nenek           : nak, ambil ini. (memberi kotak hitam)
Anak                : apa ini ? (bingung)
Nenek           : apapun yang terjadi jangan buka kotak hitam ini, sebelum ibumu datang.
Anak             : tapi apa ini nek? (bingung dan kesal)
 Nenek          : ingat saja kata-kataku.(bangkit dan berjalan meninggalkan anak perlahan)
 Anak            : nenek ingin kemana ?
Nenek           : aku ingin mencari kembali ketenangan itu. Ingat jangan buka kotak hitam itu sebelum ibumu datang. Hari sudah semakin gelap, namun sang ibu belum datang juga. Si anak pun bingun,takut, dan khawatir.
Anak             : kemana ya ibu ? ko belum juga datang ? apakah ibu sudah pulang ?
 Anak            : ah tidak mungkin. (melihat kotak hitam)
Anak             : apa ya ini ? mengapa nenek tadi bilang, jangan buka kotak hitam ini sebelum ibumu datang ?
Anak             : apakah uang ? aah tidak mungkin, untuk minum saja dia kesusahan.
Anak             : apakah batu ajaib ? aah makin ngawur saja !
Anak             : ah lebih baik aku buka saja sekarang, (sedikit mengintip)
Anak             : ah tidak-tidak !
Anak             : (melempar kotaknya)
Anak             : (kotak hitam itu terbuka dan keluar isi kotak hitam tersebut)
Anak             : apa ini ? ada tulisannya.
Anak             : nak, maafkan nenek. Nenek tidak berani mengatakan hal ini dengan langsung. Tadi saat diperjalanan menuju kemari, nenek bertemu dengan ibumu, nenek mendengan suara ibumu mengucapkan sorabi.. sorabi.. tapi seketika suara itu hilang. Dan saat nenek lihat kebelakang ternyata ibumu ditabrak mobil truk bermuatan batu-bata. Seketika itu pula nenek melihat potongan-potongan bagian badan ibumu dengan lumuran darah disekitarnya. Dan teriakan-teriakan histeris orang-orang disekitar situ. Maafkan nenek nak, mungkin hanya ini yang bisa nenek katakan. Mungkin kini kamu telah mengetahui apa arti ketenangan itu. Tertanda cinta, nenek.

No comments:

Post a Comment

silahkan masukkan komentar. pesan, saran maupun kritik untuk BEZPER tercinta