6.12.15

WEWE Gombel


Oleh : ASAL 2014/2015

Panggung menunjukan latar kebun dengan pepohonan yang rimbun tempat bermain anak-anak. suasana tenang, sunyi senyap, mistis

Fade in 3 orang anak (bermain Cublak-cublak suweng)
Fade in wewe Gombel (misterius)
1 bar lagu cublak-cublak suweng selesai, wewe Gombel fade out

Anak 1 : Ihh kamu curang masa masa kerikilnya ada dua? Gantian kamu yang jadi sekarang!
Anak 2 : iya deh
Laras   : teman-teman udahan yuk, hari ludah gelap, aku takut dimari bapak lagi!
Anak 1 :  oiya! Yaudah pulang yuk kasihan Bapaknya laras kan galak
Anak 2 : yuk, tapi jangan lupa bersihin dulu mainan kita.

Fade in Bapak, anak1 anak2 fade out

Bapak : Larasssss (teriak)
Bapak : sini kamu (menjewer laras)

Bapak & laras Freeze. Fade in kontemporer menggambarkan kekerasan bapak terhadap laras. Fade in ada Gomel (menyaksikan kekerasan yang dialami laras)
Fade out kontemporer & wewe. Freeze selesai

Bapak    : bandel kamu ya!
Laras      : aku gak bandel ya pak
Bapak    : ditiggal pergi, main melulu.
Laras      : tapi tadi laras sudah mau pulang....
Bapak   : (memotong dialog laras) Bapak kan sudah bilang sebelum petang sudah dirumah (menampar laras)
Laras      : ampun pak, maafin laras pak,
Bapak    : (melempar uang ke laras) beli minyak sana. Setir dirumah habis.
Laras      : Tapi pak laras takut
Bapak    : hallahhh gak sak cengeng kamu

Fede out bapak. Wewe Fade in

laras berjalan sendirian, muncul sosok wewe, laras ketakutan dan pingsan, wewe Gombel mengemban laras dan membawanya ke bawah pohon rindang (sisi kiri pangung). Wewe mengelus-elus rambut laras, dan memerhatikan memar-memar pada tubuhnya.

Fade in bapak dan warga (dari sisi panggung kanan mencari-cari laras)
Bapak    : Larasss
Warga 1: laras
Warga2: dimana kamu nak?
Freeze

Fade in pembaca Puisi
(Karya : Ahmad Mafrukhi)

(SISI LAIN) MITOS WEWE GOMBEL

Senja tiba lalu tenggelam
Kegelapan kini datang menyelimuti
Menutup tubuhmu yang tak berbentuk
Menggondol anak orang dan menghilang

Sang bapak mencari-cari
Tetapi dalam hati memakai
“dasar anak tidak tahu diuntung
Awas saja kalau ketemu, tak akan kuampuni”

Hahaha
Aku tak mengerti dengan mereka
Yang dikaruniai buah hati
Yang cantik nan suci
Tapi tak kau jaga sepenuh hati

Lalu apa salahnya si buruk rupa
yang hendak menjaga
Toh fisik tak menjadi alasan
Yang penting kasih sayang

Hemh hahaha
Tapi ini hanyalah sebuah cerita
Cerita masa lalu yang berlebih
Yang bahkan akupun tak tahu
Karena ini adalah MITOS
(suara petir)
Lampu mati

Makrab Suling Zakti (AKULAH PERMAINAN TRADISIONAL)

  Penampilan kelompok Suku dibaca oleh : Ashabul Izudin

Anak-anak teriak ku kencang
Melawan angin yang mengusikku
Kemanakah kalian sekarang?
Lupakah akan diriku?

Aku di sini menunggu
Ingin bermain bersama
Tapi kini dia tujuanmu
Tanpa menengok lagi kalian pergi bersamanya

Permainan modern mulai menyingkirkanku
Menggeser tempatku untuk kalian
Lantas bagaimana denganku?
Dilupakan karena permainan modern

Teknologi Games telah memanjakan kalian
Hingga kalian menganggapku kuno
Jeritanku tak dihiraukan
Seolah kalian berkata “gol”

Tetapi apalah dayaku
Aku hanya permainan tradisional
Yang digandrungi anak-anak dahulu
Aku tak lagi dikenal

19.10.15

Happening Art (Hari Tani)

Karya : Amanda dan Ayu 2015 
(Puisi Opening)
Kau anggap apa aku
Tak kenal waktu aku berpeluh demi sebutir padi
Demi sikat sayur segar
Demi buah yang ranum
Karena itu yang kau harapkan
Tubuhku lemas, dadaku sesak ingin berontak
Tak dapat berbuat, apalagi membentak
Saat kau tentukan harga
Saat kau memonopoli semua
Kau anggap apa aku
Kau rampas jerih payah kami
Kau robek hati kecil ini
Kami tersenyum kecil
Dikala merintih kekecewaan
Kami beri alam yang indah
Tapi balasan keindahan tak juga terasa
Kau anggap apa aku
Tanpa kata, tanpa iba, aku terima
Aku ini siapa?

(Puisi Ending)
Kau otak dari semua kepala
Dalang dari semua wayang
Bersantai membentang kaki
Dimana hak kami?
Kau pakan tenaga tua yang lemah ini
Tak pernah melirik merasakan
Kau pandang dengan mata sendiri
Kami merendah kau merendahkan
Kami berjuang kau mempermainkan
Kau bilang negeri ini negeri pertanian
Kau bilang negeri ini penuh kemakmuran
Kau bilang masyarakat harus terhindar dari kemiskinan
Tapi apa kau tahu?
Betapa sakitnya batin ini mendengar semua janji-janji

GATHERING


Karya : Rahma 2015

Nusantara Indonesia

Nusantara tercinta

Suku, bahasa, adat, budaya

Beribu macam suku bangsa yang bersanding dalam satu wadah yang sama

Dengan segala perbedaan, dengan segala kekurangan

Kita melebur menjadi satu untuk sebuah keindahan yang luar biasa

Perbedaan bukanlah masalah untuk menjadi suatu negara yang sejahtera

Tapi perbedaan adalah kunci untuk kesejahteraan

Kita memang berbeda

Tapi kita adalah satu

Karena kita adalah Bineka Tunggal Ika