10.11.13

Bezper | 20 | Kisah klasik ini ..................


oleh : Bezperian  

Berawal dari gairah seni , kita dipertemukan pada sebuah ruang untuk melampiaskan hasrat. Ruangan itu sederhana, hanya sebatas tiga kali empat. Tak luas, namun mampu menampung kisah klasik selama 20 tahun.
Dialah saksi bisu pertengkaran kita, saksi bisu kejengkelan kita, kejenuhan, kegelisahan, kebahagiaanpun tak luput menyelimuti kita.
Sedih kadang melihat semuanya berlalu begitu cepat. Kisah klasik ini tak bisa terhapus begitu saja , sebagaimana hujan menyapu debu sore kemaren.
Aku ingat, saat kemarin aku masih menjadi seorang adik. Dimanja, paling disayang, selalu diutamakan. Rasanya enggan untuk menjadi kakak.
Tapi melalui proses, kami bermetamorfosa belajar menjadi seorang kakak.
Ah jadi ingat ketika proses, malam kita habiskan bersama, bahkan menjelang pagipun kebersamaan itu masih ada. Hari-hari berlalu, kejenuhan terkadang menghampiri. Tapi genggaman erat itu seperti halnya air yang menetralisir keadaan jenuh pada konsentrat.
Genggaman yang membangkitkan semangat, genggaman yang menghalangiku ketika beranjak dari lingkaran, dan genggaman yang sampai saat ini pun harus tercengkram kuat dalam setiap keadaan.
Banyak proses yang telah dilalui, suka, duka , senang, sedih, cacian, makian, hingga hinaanpun didapatkan.
Dari proses itulah kita dapat merangkai kisah ini. Banyak kisah, scenario, naskah dan cerita cerita lain yang dapat dituturkan, tapi tidak ada kisah yang seindah kisah klasik di Rumah kita, di Bezper kita J
Selamat ulang tahun Bengkel Seni Pertanian yang ke 20 .

Ia budak , Tuan !

oleh : Wilujeng Puspita D





Seperti budak , tuan
Ia habiskan malam yang muram dengan kedurjaan padanya
Sekalipun tuan suguhkan senyum
Kelamin tetap saja terasa kelu
Ia telah diperkosa oleh garis-garis hidup yang kejam
Bila hujan, bila tidak
Sama saja tidak ada tempat berteduh
Apalagi sekedar bersandar bahkan bersuara
Hanya ada pohon pisang dengan daun kering
Gedung tanpa emperan
Hujan tak kunjung reda
Reda tiada teduh
Dan tuan-tuan tanpa peduli !

Kenapa


Oleh : Arifa Dewi tresno





Langit malam ini
Mungkin bisa menggambarkan hati
Gelap  . pengap

Entahlah apa yang terjadi pada hati
Apa mungkin hidup ini

Kenapa?
Iya kenapa
Kenapa kalian bertanya kenapa
Apa karena kalian orang punya
Sehingga kalian senang bertanya kenapa


Anak- anak Sanja Gani

oleh : Wilujeng Puspita Dewi


Sanja Gani
Terduduk dijembatan tua
Melihat lampu lampu pedesaan mulai menyala
“Sore ini tidak seperti sore kemarin”
Di sandingkala
Jangkrik tidak lagi berderik usik
Bocah cilik tidak lagi menembang sandingkala
Dan anak-anak muda membisu
Tergilas siluet jaman
Tertidur dibaliknya
Tanpa resah gelisah
Langit kian tergesa bergeser
Disabu kegelapan pekat
Pertiwi kian bukan milik pribumi
Namun anak-anak sanja gani bergerak lambat
Tanpa cekat, tanpa tekad, tanpa lawan
Lahan perlahan menggali lubang
Mengubur jati diri bngsa
O…….. anak-anak Sanja Gani
Kau bakar jarit barut yang membalut tubuh
Telanjang terjangkit euphoria karya asing
Mengulumnya tanpa basi basi
Rusak sudah metabolisme bangsa
Sanja Gani
Terduduk dijembatan tua
Melihat anak-anaknya
Yang tak pernah berbangga
Akan bangsa dan budaya